Richa's Fans

Minggu, 24 Juni 2012

KENANGAN TAK TERLUPAKAN



Mengingat kembali ke masa silam ku, dimana saat itu aku masih sekolah SMK.
Aku sekolah di sebuah sekolah swasta yang berada di daerah Bekasi. Disana aku memiliki kepala program (kaprog) Akuntansi yang sangat ”killer”.
Memang saat masih kelas X, kelas akuntansi memiliki wali kelas yang tidak pernah menegur jika melakukan kesalahan, ataupun mengatur-atur siswinya, yang bagi aku dan kawan-kawanku memiliki sifat yang baik, tapi sebenarnya dibalik sikapnya yang tak pernah menegur siswi-siswinya itu karena mungkin ia tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak didiknya.

Tapi semenjak aku kelas XI, kehidupan ku dan juga kawan sekelasku berubah, karena dikelas guru yang ”killer” dikelas itu menjadi guru, wali kelas, sekaligus kaprog dikelas kami. Semenjak dia mengajar, memang banyak teman-teman yang merasa kesal, begitupun aku.

Karena dia orang yang sangat disiplin, setiap siswi yang terlambat, tidak mengerjakan tugas, nilainya rendah, memakai seragam yang ketat ataupun memakai rok yang diatas mata kaki, selalu mendapatkan hukuman jika melakukan poin-poin seperti yang disebutkan diatas. Kadang diberi hukuman membersihkan mushola atau toilet, kadang diberi hukuman berlari hingga 5 kali balik, kadang diberi hukuman mengukur lapangan, kadang scotjump, dan yang terparah adalah diberi surat panggilan untuk orang tua murid.
Memang benar-benar orang yang sangat disiplin dan tegas, begitulah hari-hari ku dan kawan-kawan dikelas kala melakukan kesalahan, selalu saja dipenuhi hukuman-hukuman.
Kami semua memang sudah sangat jemu dengan guru itu, tapi kami sadar bahwa dengan sifat tegasnya itu adalah untuk memotifasi siswi-siswinya agar disiplin.

Semenjak aku kelas XII, dia tak lagi menjadi wali kelas dan kaprog dikelas ku, tetapi dia hanya menjadi guru akuntansi saja. Meskipun begitu,aturan-aturannya di waktu dulu tetap saja berlaku.
Hingga suatu hari ia memutuskan untuk tidak mengajar lagi, lantaran sibuk dengan usaha butiknya.

Menjelang ujian akhir sekolah, banyak praktik-praktik yang di ujikan agar siswi-siswi bisa mengikuti ujian nasional. Kamipun merasa ada yang kurang dengan tidak adanya si guru ”killer” itu, karena pengganti dia kurang profesional dalam mengajar, kami pun menjadi bingung karena tidak ada lagi yang memperhatikan dengan ekstra, dan mengajari dengan profesional.
Singkat cerita, ujian selolah berjalan lancar, begitupun dengan ujian nasional.

Kepala sekolah memutuskan untuk mengadakan perpisahan ke Lembang Bandung, kami semua merasa sangat senang, meskipun selalu terpikir ”apakah aku lulus ujian???”
Namun, disana kami lupakan segala pikiran negatif yang ada dalam benak. Semua pun bersenang-senang, dan ingin segera diberitahukan pengumuman kelulusan, lantaran sudah sangat penasaran dan ingin cepat-cepat lulus, agar dapat melanjutkan keperguruan tinggi. Akan tetapi, pengumuman belum jua ada.

Hingga tanggal penumuman kelulusan yang saya rasa sangat menegangkan inipun tiba, tepatnya pada 23 Juni 2009, para siswi disuruh berkumpul di ruang aula, lalu kepala sekolah pun bercerita yang mambuat semua siswi makin tegang.

Diruang aula itu sudah disiapkan oksigen guna memberi pertolongan saat ada yang pingsan karena shok. Saat pembagian amplop yang berisi surat kelulusan pun tiba. Semua siswi sudah mendapatkan amplop yang bertuliskan nama masing-masing, lalu kepala sekolah pun memberikan aba-aba saat membuka amplop itu, ”Anak-anak, kalian sudah siap membuka amplop itu? Bapak harap apabila ada yang tidak lulus, bisa menerimanya dengan berbesar hati. Mari kita buka sama-sama...! Bismillahirrahmanirrahiim....”

Aku dan kawan akrab ku pun saling berpegangan tangan, seraya membaca do’a, semoga semuanya bisa lulus.
Namun betapa kagetnya aku, ketika melihat tulisan LULUS/TIDAK LULUS, saat itu rasanya hatiku hancur sehancur-hancurnya, dan melihat semua kawan-kawanku saling berpelukan seraya mengucapkan ”Yeah.. Lulus!”, saat itu aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Fikiran ku sangat kalut saat itu. Kawanku pun bertanya kepadaku ”Rika, kamu lulus juga kan?!”. Aku tak dapat menjawabnya dengan kata-kata, namun aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, sambil menunduk.
Kawanku pun bingung dengan jawabanku itu, lalu mangambil amplop berisi tulisan LULUS/TIDAK LULUS itu. Mereka pun kaget saat melihat isi amplop kelulusanku sambil mereka mengucapkan kata-kata penyemangat yang membuatku agak sedikit tenang.
Banyak pula yang menangis, dan menjerij-jerit saat melihat amplop kelulusan mereka yang kosong.

Lalu semua korban tidak lulus, dibawa ke ruang UKS. Namun aku menolak, karena aku ingin mencoba tabah dalam menjalani semua ini, dan ikut dalam kegembiraan kawan-kawan yang telah lulus.
Tetapi guru bahasa inggris favoritku tetap menyuruhku agar ikut keruang UKS bersama para siswi yang tidak lulus. Akupun akhirnya mengikuti apa kata guru ku itu.

Disana penuh dengan isak tangis semua yang tidak lulus, mereka semua tidak terima dengan semua itu, karena tidak masuk akal, bagaimana mungkin amplop siswi-siswi lain terisi, sedangkan mereka tidak, dan anehnya lagi yang paling banyak tidak lulus adalah di kelas yang paling intelektual dibanding kelas lain.
Sedikit ku berpikir apakah semua ini hanya kebohongan semata, yang hanya untuk mengerjai saja, tapi aku pun tetap terpikir, bagaimana jika aku benar tidak lulus ujian. Akan jadi apa aku nanti??
Bagaimana respon kedua orang tua ku jika semua itu benar??
Bagaimana pandangan keluargaku??
Bagaimana jika tetanggaku bertanya nanti??
Bagaimana pandangan tetenggaku jika semua itu benar??
Dan bagaimana pandangan kawan-kawanku nanti??
Haruskah aku mangurung diri??
Bagaimana mananggung rasa malu itu??
Bagaimana impian kuliah ku nanti??
Semua pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiranku, yang akhirnya membuatku menitikkan air mata seperti yang lain.

Semua itu terjawab saat pak kepala sekolah mendatangi ruang UKS. Beliau berkata; ”Sudah, sudah...! kalian tak perlu menangis lagi..! kalian semua lulus, kok....!”
Mendengar berita itu kami semua menjadi penasaran dan ingin tahu buktinya.
Lalu kepala sekolah pun memperlihatkan daftar semua siswi yang lulus, dan ternyata Syukur alhamdulillah kami semua yang berada diruang UKS lulus juga.
Ternyata pak kepala sekolah hanya bergurau, dia hanya menakut-nakuti kami saja dan sedikit memberi pelajaran kepada kami semua (para korban).
Aku bertanya kepada kepala sekolah, ”kenapa harus membuat skenario seperti ini, pak?”
Beliau menjawab: ”Saya hanya ingin kalian juga merasakan bagaimana rasanya jika tidak lulus” seraya tertawa, yang membuat kami pun menjadi ikut tertawa.

***Dan ending dari cerita ini adalah berbahagia...***

2 komentar:

  1. Jahat yaa wali kelas kamu :D

    kunjungi blog aku ya di roarfrombermuda.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Thx ya ud baca.. Ntr gantian baca blog anda deh.mas.. Hhe

    BalasHapus